harus aku mulai dari apa ini tulisan, sekali pengen nulis ya nyampah disini.
Media Ureg-ureg dan ruang ekspresi. karena tak punya kanvas dan cat, aku hanya bermodalkan Bahasa untuk menggambarkanya.
Senin, 21 Juli 2014
Berkabung: Layatku Untukmu, Bung Anantaguna
Potrait Seorang Komunis
Mishilisme
Depok, 21/7/2014
Adakah Duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati
adakah tangis lebih tangis yang kita punya badan lesu dan napas sendat di dada
tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu
bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya
bila pernah ditakuti tapi juga disayangi
bila kalahpun berlampauan dan menang akan datang
adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi
dan apakah yang aku bisa selain hidup
adalah bangga lebih bangga yang kita punya
di pagi manis daun berbisikan tentang komunis
begitu lembut begitu mesra desirkan hari biru
adakah cinta lebih cinta yang kita punya
sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja.
(S. Anantaguna)
tulisan ini untuk memperingati 2 hari kepergian sastrawan Lekra yang sangat dicintai oleh penggemarnya. memang namanya tidak se-populer, namun dalam realisme magis, dan kalangan pembaca realisme magis tidak akan melupakan sosok S. Anantaguna. kalaupun hari ini saya menuliskan sebuah rasa duka yang mendalam tentang kepergian sosok bung Anantaguna. memang Saya belum pernah sempat bertemu dengan beliau yang lahir di Klaten, Jawa Tengah. jikalau seseorang yang sedang berduka dengan kematian, layatan ini hanya sebuah tulisan untuk menghormati kesastrawanan Anantaguna.
Potrait Seorang Komunis adalah sebuah puisi yang menjadi salah satu jagoan saya, selain puisi "Demokrasi". puisi ini mungkin sedikit mewakili kepergiannya. Anantaguna dikenal sebagai salah satu satrawan yang bekerja dalam ruang Realisme. wajah ke-duka-an dalam setiap bait. perih, kematian, darah, tangis, "lesu dan napas sendat di dada". adalah komponen yang membentuk kedukaan. bila dalam puisi ini menceritakan sebuah kepedihan yang mendalam akan kehilangan seseorang kawan yang telah pergi namun masi di kenang. kawan yang masih berkesan, sebagai sosok yang pernah di takut-takuti namun juga disayangi. namun dalam bait terakhir menuliskan tentang sebuah pengharapan yang baru tentang hidup yang berharga. dan Komunis pada sajak "pagi manis daun berbisikan tentang komunis" menyiratkan bahwa pada saat itu yang berharga adalah yang hidup, sedangkan pagi adalah suatu bagian yang dimulai dalam kehidupan, dan daun yang berbisik tentang komunis. berbisik adalah metafor yang dibuat untuk memperindah kata-kata. kemudian sajak berikutnya, "begitu lembut begitu mesra desirkan hari biru
adakah cinta lebih cinta yang kita punya. sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja" menyiratkan sebuah sesuatu yang berjalan dengan lembut, mesra, cinta, dan kesetiaan.sebuah metafor yang dipilihkan untuk membuat indah, damai, dan tanpa kekerasan yang mengacu pada Komunis.
kita tahu pada tragedi G30S,adalah tragedi berdarah untuk kaum komunis. kekuasaan menjadi sebuah mesin pembunuh bagi siapa saja yang berlatar belakang komunis. hasutan tentang gerakan sparatis, menggugah para kelompok dan ormas-ormas islam menjadi oposisi. dan pada saat itu komunis menjadi sebuah momok, menjadi sebuah hantu yang harus diburu oleh para pemburu hantu. namun inilah sejarah konspirasi besar di Indonesia. adakah saat itu yang tidak terhasut oleh kekuasaan dan memikirkan tentang "darah" seperti pada sajak yang ditulis oleh Anantaguna? mungkin patutlah puisi "Potrait seorang Komunis" adalah sebuah narasi besar tentang kemanusiaan. pengarang memiliki pandangan dunia tentang humanisme universal. dimana keadilan harus diperjuangkan. jika diamati satu persatu terdapat sebuah diksi yang berda dalam puisi tersebut, yakni, "disayang" dengan "ditakuti"/ adalah sebuah entitas yang berlawanan antara sebagai hal yang positi namun juga ditakuti (seperti hantu). gambaran-gambaran dalam sajak diatas adalah ditujukan untuk para komunis, lalu yang tersisa adalah "yang masih hidup" sesuai dalam " apakah yang aku bisa selain hidup". mungkin jasad adalah kawan yang telah mati, namun "Aku" sebagai aku liris mengacu pada sebuah apa yang masih kita miliki, yakni daun yang berbisik komunis. sebuah ide, konsep, dan ataupun berlatar -isme tentang komunis. walaupun tubuh tidak lagi mampu hidup, namun sebuah ideologi akan tetap hidup, dari yang tersisa dan berharga. menjadi sesuatu yang manis, mesra, cinta dan kesetiaan.
selamat jalan, Bung Anantaguna....
inilah bagian dimana tubuh atau jasad yang tak mampu lagi menahan sebuah masa, namun ada yang lebih berharga dan masih hidup, yang berbisik mesra tentang Komunis, setia dan berkobar...
Mishilisme
Depok, 21/7/2014
Selasa, 25 Maret 2014
Puisi Esai Dimana Rezimu Berada?
Padamulanya sebuah Puisi memiliki tipografi yang sesuai dengan konsensus yang dibuat pada masa Pujangga Lama, dalam perkembanganya sebuah puisi kemudian lebih variatif sesuai dengan zamannya. Sebuah puisi berkembang dapat dipengaruhi berbagai hal, misalnya dalam Pujangga Baru sebuah semangat zaman , lahir pada tahun 1933 dan 1942, dengan dilatarbelakangi Nasionalisme Indonesia. Dengan memngembangkan semangat Indonesia Modern yang bergaya barat, walaupun ‘Nasionalis’ tak terpisahkan dengan Indonesia . Kemunculan Pujangga Baru inilah yang mengantarkan perdebatan antara Armin Pane dan Sutan Takdir Alisyabana atau dikenal dengan STA. tentang pendirian Takdir yang bersikukuh menggunakan seni dengan didaktisme tetap berjalan, namun masih melanjutkan gema Neo Romantisisime Belanda abad ke Sembilan belas dan pendekatan Belanda dalam mengajarkan kesusastraan pada awal abad ke duapuluh, yang pada akhir tahun 1920-an sudah banyak dikenal.
Puisi Esai muncul di atas permukan, menjadi varian dari penulisan sebuah puisi. Pada mulanya sebuah Puisi Esai muncul dalam bentuk tulisan antologi sebuah komunitas, dimana Nenden sebagai editor. Kemudian pada tahun berikutnya muncul sebuah buku yang berjudul 33 Tokoh Sastra yang Berpengaruh yang mana banyak menimbulkan sebuah polemik, dalam dunia sastra. Saut Situmorang adalah salah satu sastrawan yang mem-pioniri petisi untuk menarik kembali buku tersebut dalam peredarannya. Hal ini didasari bahwasanya perbitan buku tersebut sangat kental dengan klaim assersif yang terlihat dalam judul buku yakni 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Menurut petisi tersebut buku 33 Tokoh tidak menunjukan kesuperlatifan pengaruh tokoh-tokoh. Kemudian Buku ini mencederai integritas asli sastrawan, serta masyarakat Indonesia, Buku 33 Tokoh juga dapat menjadi Presenden Buruk, dalam artian klaim Assersif yang dilakukan dapat menjadikan klaim-klaim yang tak bertanggung jawab yang sejenis.
Namun dalam perdebatanya, Denny JA tetap berkicau bahwasanya kebebasan dalam berpendapat adalah hak setiap orang. Seperti yang termuat dalam tulisan Prof Faruk HT yang mengomentari masalah petisi, dengan memberi judul “Argumen Basi. Buku lawan Buku, Korupsi lawan korupsi, Argumentasi Robinhood atau Maling Budiman”, Faruk memberikan pertanyaan retoris pada kalimat berikutnya, Apakah memilih dalam pemilihan umum merupakan bentuk pernyataan pendapat? Setiap orang berhak menyatakan pendapat kecuali dalam dua hal, yaitu adanya money politic atau tekanan dari pihak tertentu. Serta adanya manipulasi . pembredelan merupakan sebuah tindakan yang meningatkan kita pada stigmatisasi orba terhadap stigmatisasi PKI, semua yang dicap orba bisa saja nantinya akan ditangkap dan dijegal turun temurun.
Bagaimana Feedback Denny JA dalam menanggapi petisi tersebut. Dalam portal Berita.com Denny JA menuding penggiat sastra sebagai kaum pemalas. Tudingan ini ibarat seperti sebuah klaim yang didasari emosional pribadi terhadap petisi tersebut. Kembali melihat bagaimana track record yang melekat pada Denny JA adalah seorang intelektual dan aktivis, tradisi-tradisi yang dibangun para intelektual tidaklah mengeluarkan statemen tanpa dasar. pada poin 15 dalam balasan Deny JA, menyatakan bahwa kita sadar bahwa kaum facis tidak hanya dalam dunia politik namun dalam dunia sastra. sangat jelas satire yang dilontarkan Denny JA dalam mengeluarkan pendapatnya tentang petisi.
Sudah saatnya sebagai sebuah kaum elitis dengan beckground masyarakat yang bermacam-macam, misalnya sebagai seorang sastrawan, penggiat sastra, penyair, aktivis, kaum intelektual, tentunya menggunakan metode yang kooperatif dalam menanggapi masalah, bukan hanya rasa kekecewaanya dengan menuding “ini dan itu”.
Jika kita bembandingkan cerita-cerita tentang “pembredelan” buku yang yang dilakukan pada masa orba misalnya, atau buku-buku yang di cap komunis, yang terjadi dikemudian hari adalah sebuah pengulangan yakni gagalnya sebuah buku diedarkan. Namun setelah pergantian orde baru ke sebuah zaman reformasi mengembalikan buku-buku tersebut muncul ke permukaan. Seperti halnya novel Pramudya Ananta Toer. Sebuah puisi esai adalah sebuah embrio puisi Indonesia baru. Kalau kemudian yang dibredel adalah bukunya, yang akan terjadi adalah puisi berbentuk esai akan dinyatakan salah. Namun yang terungkap dalam petisi tersebut bukanlah sebuah pembredelan, akan tetapi untuk dievaluasi dengan jalan menguji kevalidan sebuah prinsip yang dipakai oleh para juri dalam mengeksekusi sebuah puisi esai dan ketokohannya.
Money politic Jalan Politik dan Politisasi dalam Sastra?
Kredebilitas Denny JA dalam menggawangi sebagai pelopor puisi esai memang dipertanyaakan, terbukti dalam pernyataan salah satu Tim 8 yang mengaku dibayar untuk membuat buku tersebut. Dan pengakuan Ahmadun Y Herfanda sebagai salah satu sastrawan yang masuk kedalam buku tersebut menyatakan dalam sebuah email kepada surah sastra yang termuat dalam portal info sastra, bahwasanya yang ia lakukan adalah pesanan Denny JA semata.
Proses kreatif seorang pengarang adalah sebuah usaha pengarang dalam menciptakan sebuah karya yang terlebelkan sebagai karya pengarang tersebut. Akan tetapi dalam kasus Denny JA, bagaimana jikalau yang terjadi seorang sastrawan menulis dalam tekanan “pesanan” dan tentunya dengan imbalan yang cukup besar? seorang pengarang, dalam pekerjaan secara ideologis mereka menciptakan sebuah karya yang lahir dari hasil buah pemikiran mereka, akan tetapi sebuah karya juga butuh diapresiasikan seperti yang dikatakan oleh Rane Wellek dan Austin, bahwasanya sebuah karya harus dinikmati agar tidak menjadi sebuah artefak semata. Begitu juga sebuah karya yang dibukukan. Buku menjadi sebuah sarana apresiasi agar sebuah karya dibaca oleh khalayak.
Terlepas tentang apresiasi karya sastra, polemik secara kronologis dalam kelahiran 33 Tokoh Sastra Indonesia Yang Berpengaruh, adalah sebuah usaha Denny JA untuk melegitimasikan dirinya sebagai seorang sastrawan. Dan melegitimasikan bahwa sebuah puisi esai yang dia tulis merupakan warna baru dalam sastra dan menjadikan dirinya sebagai pelopor, dengan menghadirkan beberapa penyair sastra kenamaan Indonesia.
catatan kaki :
- Keioth Foulcher. Pujangga Baru. Hal. 5
- Dalam Portal Berita Buku.
Sabtu, 22 Maret 2014
Gombalan Laki-Laki : Seorang Sahabat (Cuwilan Cerita Mata Elang): picisan
kita tidak akan pernah tahu siapa jodoh kita nanti. kapan? dimana? dan dengan siapa? satu tahun tidak perlu terburu-buru dalam menentukan orang baru. tentang siapa yang pantas dan siapa yang cukup kuat untuk menjadi kandidat anyway ini bukan sebuah kampanye politik untuk menjadi siapa akan memenangkan hati seorang perempuan. hehehe...
suatu ketika si Mata Elang kembali menyapa Mentari. dengan pengalaman yang sudah-sudah tidak mungkin Mentari tetap memihak kepada kebohongan/ketidak pastian/ dan yang pasti dengan orang yang memiliki banyak segudang pengetahuan, namun tidak punya tujuan yang pasti. hehe... Matanya masih sejatam dulu, tapi dia kembali bukan menjadi seorang yang sangat mempesona, yang membuat hatiku jedug-jedug. sekarang sih keadaan sudah berubah 180 derajat, bagaimana tidak? seorang wanita tidak bisa percaya dengan laki-laki yang in-konsisten.tapi bukan karena itu juga sih, banyak hal yang tidak bisa aku tuliskan disini terkait tentang Mata Elang.
kali ini dia datang seperti orang yang membawa setumpuk bagasi yang isinya keluhan, yep Mentari hanya bisa menjadi teman curhat. tapi semakin kesini-semakin kesini Mata Elang mulai berani-beraninya menggombal, nggak di telfon, nggak di sms, nggak di BBM, nggak di Voice Note. berasa di hujani dengan peluru gombalan.
Obrolan Semalam....
sepertinya Mata Elang, gak capek-capeknya menghujaniku dengan seribu gombalan. bahkan tawaran dinner di sebuah ressort di daerah Batu Malang. ya ya ya... kalau sekedar ajakan dine bareng sih gak bikin melted, hanya saja sudah bikin blushing pipi-ku. ya namanya juga perempuan. hehe...
yang lebih anehnya lagi gombalannya itu lho pakai bawa-bawa Nabi Muhammad SAW. aduh jadi gimana gitu. yang pasti seorang nabi tidak bisa di generalisasikan seperti yang dia anggap. terlalu masif!!!
hemmm....
menurutku sih dia tetap menarik, walaupun ya sedikit alay dengan gombalan-gombalan bertajuk tausiyah. tapi aku sendiri lebih suka dia menjadi pelukis daripada rois :p xixixixi... lagian yang dia omongin selalu yang provant. ya gitulah.
Dia bilang, mungkin orang ngira i'm a bad boy, tapi mereka salah besar. ya ya selalu ada pembelaan terhadap diri sendiri. tapi selama aku jalan sama dia sih gak ada namanya Aku di-apa2in. yang ada aku malah dilindungin terus. jadi ingat waktu dia bantuin aku daftar di pascasarjana UB jurusan Sosiologi. yep, dia sudah seperti apa ya? ya gitulah.. orang yang gak tahu pasti ngiranya kita pasangan. yang pasti sih dia bikin nyaman. sampai sekarang... :) any way Mata Elang is Sobat bukan pacar :)
*note : Lowbow-Kau Cantik Hari Ini (lagu yg selalu dinyanyikan Mata Elang)
Label:
story
Lokasi: indonesia
Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
Kamis, 20 Maret 2014
Jurusan Sastra Indonesia Bukan Lagi Jurusan yang Ecek-Ecek
Teringat pada saat pertama kali masuk di Universitas Airlangga dengan Jurusan pilihan pertama Sastra Indoensia, dan pilihan ke dua Ilmu Politik karena waktu itu ibu juga ingin anak-nya memilih jurusan yang sama dengan ibunya. setelah hasil tes keluar ternyata yang masuk adalah jurusan Sastra Indonesia, karena pada waktu itu memang peminat jurusan tersebut tidak sebanyak jurusan lain, pun juga dibandingkan dengan Ilmu Politik.
Apa yang terjadi setelah masuk jurusan Sastra?
tentu saja pada saja pada saat masuk jurusa sastra, saya sendiri belum memikirkan akan bekerja apa? tapi dari beberapa teman yang masuk mempunyai pernyataan dan pertanyaan yang bermacam-macam pada diri mereka masing-masing. pertama, mungkin salah seorang mahasiswa akan beranggapan akan jadi apa setelah ini? "dulu saya ambil jurusan kedokteran gak masuk, malah sastra indosesia yang masuk?", kemudian yang kedua, sastra indonesia itu jurusan yang gampang biar cepat dapat ijazah terus daftar kerja di bank lebih mudah, anggapan yang ketiga, masuk sastra indonesia? " Aku sendiri juga gak tahu mau ngapain", dan yang terakhir ini anggapan seorang mahasiswa yang sangat idealis dan terbangun militansinya dalam kesusastraan indonesia, mungkin dari basic lingkungan keluarga atau given sebagai seorang sastrawan.
hal itu mungkin yang terjadi dalam sebuah pernyataan-pernyataan dalam benak mahasiswa strata 1 atau biasa disebut mahasiswa S1. kita sendiri tidak bisa memaksakan sebuah kesenangan atau anggapan "benar" kita terhadap sesuatu. dengan kita melihat pernyataan-pernyataan mahasiswa seperti itu, dari pengalaman pertemanan Saya, setelah lulus kuliah toh mereka juga mendapatkan kesuksesan masing-masing. lulusan Sastra Indonesia banyak yang sudah bekerja. jadi jangan dianggap jurusan Sastra Indoensia itu tidak bisa bekerja dimanapun. memang, dalam kenyataanya dalam hubungannya pada lembaga pemerintahan formasi untuk lulusan sastra indonesia belum banyak dibutuhkan. tapi banyak juga lulusan Sastra Indonesia sukses melebarkan karirnya dalam Perbankan, salah satunya teman saya juga sekarang bekerja menjadi pegawai tetap CSO pada BCA. terus ada juga yang kemudian melanjutkan studi sastranya ke jenjang yang lebih tinggi, yakni S2 dan S3 dari situ bisa mengembangkan militansinya terhadap sastra Indonesia, baik jadi Guru/ Dosen/ Pegawai Negri Sipil.
untuk yang saat ini menempuh pendidikan Sastra Indonesia jangan berkecil hati, karena lapangan pekerjaan dan kesempatan untuk mendalami kesusastraan masih terbuka lebar. bahkan sastra indonesia juga sama dengan jurusan-jurusan lain, yang memiliki kesempatan dalam bekerja dibidan non profesi apapun serta mendapatkan ruang bagi yang ingin menjadi akademisi.
"Maju Terus Sarjana Sastra Indonesia!!!!!!"
Jogjakarta, 3/21/2014
Mishilisme
Senin, 11 November 2013
Pulang-nya Godot (Pulang
Hari ini ada yang memberiku kabar,
kabarnya kau akan pulang?
benarkah?
untuk siapa kepulanganmu ini??
tanyaku dalam sebuah pesan singkat....
pesan sudah terkirim, namun tak satupun balasan yang dia tulis.
beberapa menit kemudian,
kalau begitu aku harus menjemputmu di Juanda?
oke-oke, kalau begitu aku berangkat ke Bandara Juanda Surabaya!?
iya sekarang?! kataku dengan kegirangan
beberapa menit kemudian....
penerbangan dari Malaysia-Surabaya....
beberapa orang berduyun2 untuk berpisah dan bertemu...
2jam kemudian, penerbangan dari Malaysia tak kunjung datang...
jadi pulangmu untuk siapa??? dua petugas medis membawa Godot yang sudah terkapar membiru di atas tandu.
jadi pulangmu itu tak sekedar ke Tanah Air? jadi sejauh apapun kamu pergi, pulangmu akan sangat lama, bahkan selamanya kepulanganmu menjadi sebuah tanda perpisahan air hujan dengan air mata.
Label:
Ureg-ureg
Lokasi: indonesia
Yogyakarta, Yogyakarta City, Yogyakarta, Indonesia
Sabtu, 09 November 2013
FORMULASI SOSIOLOGI SASTRA MENURUT ALAN SWINGEWOOD
Pendahuluan
Sosiolologi merupakan sebuah cabang ilmu tentang interaksi manusia, sedangkan sosiologi sastra adalah ilmu yang menggambarkan hubungan antar manusia dalam tataran sosial namun masih dalam ruang lingkup sastra. Dalam bukunya yang berjudul The Sociology of Literature, Swingewood (1972) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Selanjutnya dikatakan, bahwa sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa masyarakat bertahan hidup. Mengenai penelitian yang ketat mengenai lembaga-lembaga sosial agama, ekonomi, politik, dan keluarga, yang secara bersama-sama membentuk apa yang disebut sebagai struktur sosial, sosiologi, dikatakan, memperoleh gambaran mengenai cara-cara manusia menyesuaikan dirinya dengan dan ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tertentu, gambaran mengenai mekanisme, sosialisasi, proses belajar secara kultural, yang dengannya individu-individu dialokasikan pada dan penerima peran-peranan tertentu dalam struktur sosial itu.
Pernyataan Alan Swingewood diatas merupakan sebuah hubungan sosial, terkait satu sama-lain, antara individu-individu menerima lembaga sosial yang dianggap diperlukan dan benar. Sosiologi sendiri tidak sekedar membahas tentang keberlangsungan struktur sosial masyarakat serta interaksi, akan tetapi sosiologi juga membahas tentang adanya gejala-gejala perubahan sosial yang ada dalam masyarakat, baik secara individu maupun revolusioner. Akan tetapi, sosiologi memiliki berbagai teori dan metodologi, hal ini dikarenakan setiap teori sosiologi belum tentu sama bahkan bertentangan dengan kenyataan sosial yang ada.
Pada dasarnya perkembangan sosiologi sastra sangat terlambat, kehadiranya didahului oleh sosiologi agama, sosiologi pendidikan dan sosiologi politik. Pendekatan sosial dijadikan sebgai pendekatan sastra sudah terjadi 5 masehi yang lalu oleh Plato. Kemudian munculah istilah sastra klasik bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat. Namun tidak berhenti dalam pernyataan itu saja, dialektika tentang sosiologi sastra pun mulai berkembang tentang sosiologi sastra tidak hanya masalah sederhana, namun keterlibatan tentang penciptaan dan keterlibatan pengarang dalam kreatifitas dan imajinasi sebuah karya sastra. hal inilah adanya pengaruh politik dan ideologi didalamnya, sehingga adanya gambaran tentang karya sastra sebagai propaganda didalamnya.
Dalam buku Pengantar Sosiologi Sastra, Faruk (2012) mengutip dari Ritzer bahwasanya sosiologi sebgai ilmu pengetahuan yang meliputi paradigm. Maksudnya, didalam ilmu tersebut dijumpai beberapa paradigm, ritzer setidaknya menemukan tiga paradigm sebgai dasar sosiologi, yakni, fakta sosial, paradigm definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial.
Beberapa hal tentang paradigm sosiologi sebagai ilmu murni menurut Faruk (2012) belum menjelaskan sepenuhnya kompleksitas sosiologi. Dengan masih adanya persaingan antara teori konflik, terjadi perdebatan yang kompleks. Kompleksitas inilah yang dianggap Alan Swingewood belum bisa mnejelaskan sosiologi sastra. Oleh karena itu ada beberapa hal yang menarik, yang akan ditawarkan oleh Alan Swingewood mengenai sosiologi sebagai pendekatan sastra.
Sekilas Tentang Alan Swingewood
Alan Swingewood adalah akademisi sosiologi di sekolah ekonomi dan politik di London. belum ada biogrfi yang menjelaskan secara spesifik tentang Alan Swingewood. Akan tetapi Alan telah menerbitkan buku-buku sosiologi besar dan diantaranya adalah bukunya untuk dunia sastra yang berjudul Sosiology of literature.
Penjelasan Sosiologi Sebagai Teori Sastra menuju Pemahaman Swingewood
Seperti kebanyakan sosiologi, sosiologi sastra telah membedakan keragu-raguan dalam sejarah. Ini sesuai dengan model hari ini untuk menganggap sejarah seperti disiplin ilmu kebanyakan, terutama jika menengok kembali Sembilan belas abad yang lalu, sebagai sesuatu yang sudah tidak relevan lagi. Namun kita harus beragumentasi lain tentang sejarah munculnya sosiologi sebagai teori sastra. pada perbedaan waktu dan perbedaan penulis. Dari berbagai tanggapan mengenai itu dapat dilihat lagi sebagai hasil dari ideologi sebagai ilmu yang belum matang.
Pada awalnya, mendapatkan perlakuan yang sistematis tentang hubungan diantrara sosial dan sastra, menurut filusuf dan kritikus Hippolyte (1828-93), dia bukan satu-satunya yang beranggapan bahwa sastra adalah seni imajinatif: konsep Plato, imajinasi mengimplikasikan pandangan tentang sastra sebagai refleksi sosial, telah berada didalam pemikiran sosiologi.
Sastra merupakan bagian dari budaya, dimana peranannya merupakan sebuah produk yang dihasilkan oleh manusia yang memeproduksinya. Dalam kesuastraan bahasa adalah bahan utama yang ada dialamnya. Sebuah karya sastra merupakan sebuah cerminan terhadap masyarakat, hal ini lah yang melatar belakangi sosiologi menjadi pendekatan sastra.
Alan Swingewood dalam mempostulasikan sebuah teorinya mengenai sosiologi tak terlepas dari beberapa tokoh-tokoh lain. Diantaranya adalah Emil Durkheim, dalam jurnal Puitika terbitan UGM Yudi menuliskan, secara umum sosiologi dapat dikatakan sebagai telaah obyektif tentang manusia dan masyarakat mencakup proses-proses sosial yang ada didalamnya. Disiplin ini tentu saja menempatkan segala fenomena sosial sebagai bahan kajian yang harus diurai secara ilmiah, meliputi; pola kebudayaan, ekonomi, bahasa, sastra, dan lain-lain. Dari proses ini maka akan dapat diketahui bagaimana individu berinteraksi terhadap sosialnya sehingga dapat ditrima dalam prilaku tertentu. Sehingga secara ringkas dapat dipahami sebagai disiplin yang bertujuan untuk mengkaji prilaku manusia, pembentukan satu struktur sosial dan kesepakatan bersama dalam ekonomi, politik, budaya dan lain-lain (Durkheim, 1958:24-27). Dengan demikian sosiologi dapat diartikan sebgai sebuah ilmu yang mempelajari prilaku serta perubahan manusia. Begitu juga dengan sebuah karya sastra adalah deskripsi miniature dari masyarakat. Hal ini lah yang mendasari bahwasanya sastra mesrupakan sebuah produk masyarakat.
Dalam kedudukanya sebagai sesuatu yang berdialog dengan dunia diluar dirinya, karya sastra diangnggap sebagai sosio kritik, dengan perbagai sudut pabdang, bermunculan tokoh-tokoh sosiologi sastra diantaranta George Lukack, Loui De Bonald, Madame de Steal, Robert Escarpit, Taine, Diana Laurenson dan Alan Swingewood.
Alan Swingewood adalah sosiolog pasca-Marx dan Engels, sebelum kemunculannya, kedua tokoh tersebut sudah mendalilakan tentang kehidupan manusia dari basis material. Communist Manifesto (1820), tentang perjuangan kelas masyarakat. Buku tersebut banyak menyuarakan bahwasanya kapitalisme yang dikuasai oleh pemodal merupakan sebuah momok bagi kaum ploretarian dan buruh. Kemudian munculah revolusi industri, dimana sebuah kekuasan atau kekuatan besar yang dinamakan feodal dihancurkan oleh kaum pekerja. Hal inilah kemudian juga mempengaruhi munculnya karya-karya sastra yang berbau propaganda untuk resisten terhadap feodalisme.
Dalam buku Althusser (2005) dalam bukunya yang berjudul For Marx Radical Thinker, terdapat tulisan Marx yang matang yang berjudul The German Indology, dikatakan bahwa hubungan antara karya sastra dan struktur ekonomi sosial adalah ‘Arts as ideology has no autonomy’ hal inilah yang kemudian dikenal bahwa karya sastra itu memiliki konsep deterministk, yang artinya “terbatas”, secara umum pemikiran ini berpendapat bahwa kehidupan dan prilaku manusia ditentukan oleh ekonomi, sosial, dan keagamaan. kemudian munculah anggapan bahwa kritik Marxis menyediakan deskripsi tentang bagaimana karya sastra merefleksikan sebuah kesadaran atau ketaksadaran sebuah kelas yang dituangkan dalam karya, dimana pengaranglah yang mendapatkan peran didalamnya.
Karya sastra diposisikan sebagai cerminan langsung dari berbagai struktur sosial, hubungan kekeluargaan, konflik kelas, dan lain-lain. Swingewood sebagai tokoh yang muncul pasca Marx dan Engels berpendapat bahwa suatu karya sastra merupakan penghubung imajiner dalam sebuah novel terhadap suatu keadaan yang diciptakan oleh pengarangnyaberdasarkan asal penciptaanya. Begitu juga dengan Lawenthal mengatakan bahwa karya sastra merupakan persoalan masyarakat yang ditulis kemudian dibaca oleh masyarakat. Hal ini kemudian mendorong gerakan-gerakan karya sastra. penerimaan karya sastra dalam masyarakat dan pola budaya yang dipilih agar mempengaruhi minat masyarakat untuk membaca karya sastra tersebut (Singewood, 1972:43-48).
Taine dalam Swingewood, juga membicarakan tentang posisi karya sastra melalui tiga konsepnya; race, moment, dan milieu. Taine berpendapat bahwa karya berkaitan erat dengan sikap bawaan, intertektualitas dan semangat jaman, serta kondisi cuaca dan geografi karya sastra diciptakan. Interaksi ketiga hal ini melahirkan ‘struktur mental’, dan menjelaskan ‘germinal ideas’ (awal mula ide) satu abad atau era tertentu yang terekspresikan dalam seni atau satra yang agung (1972: 30-38)
Sosiologi adalah studi objektif dalam massyarakat, institusi, dan proses sosial yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan pola kerjanya. Karya sastra, seperti halnya sosiologi, juga membicarakan tentang kehidupan manusia, cara beradaptasi, dan keinginannya untuk berubah. Akan tetapi sebagai produk estetis, karya sastra tidak dapat dimaknai keseluruhan sebagai fakta sosiologis. Semata. Karya sastra melampui sekedar deskripsi ilmiah objektif. Ia mampu menembus permukaan sosial, bahkan menunjukkan pengalaman hidup individu diekspresikan disuatu kelompok.
Hal ini juga menjadi ketidak beruntungan sebuah perhitungan ilmu pengetahuan dan penelitian yang mana eksistensinya pada kualitas yang sangat meragukan, kaku, Banal dalam kukualitas sosiologi ‘pengetahuan’ dan kurangnya wawasan diantara teks sastra dan sejarah sosial.
Berkaitan dengan masyarakat, Swingewood memberikan tiga konsep dalam sosiologi sastra, yakni; sastra sebagai cermin jaman, sastra dilihat dari proses produksi dan kepengaranganya, dan sastra dalam hubunganya dengan sejarah.
Karya Sastra Adalah Cermin Sosial
Sebuah karya sastra, bukan hanya menyajikan sebuah bahasa yang indah seperti apa yang dikatakan kaum formalis rusia, namun sastra adalah sebuah dokumentasi sejarah, sastra juga sebgai refleksi sosial. Untuk melihat suatu fenomena tertentu, dokumentasi sastra bisa menjadi tempat untuk membuka hasil dari dokumentasi sastra, suatu prilaku dalam masyarakat tertentu, juga bisa terlihat didalamnya. Begitu juga Alan Swingewoon mengatakan dalam bukunya, mengutip Standhal bahwasanya sastra adalah sebuah cermin.
At the present time it’s possible to characterize two board approaches to a sociology of literature. The most popular perspective adopts the documentary aspect of literature, arguing that it provides a mirror to the age. (Swingewood, 1971:13)
Cermin adalah sebuah refleksi diri, begitu juga dianalogikan terhadap sebuah karya sastra merupakan sebuah pantulan dari refleksi masyaraka. Masih dalam buku Alan Swingewood Sosiology of Literature, kemudian mengutip pernyataan dari Louis de Bonald (1754-1840):
Louis was one of the first writers to argue the trough a careful reading of any nation’s literature ‘one could tell what this people had been’ (singewood, 1971:13)
Jika meelakukan close reading dalam sebuah karya sastra, maka akan mengetahui tentang prilaku masyarakat dalam sebuah karya. suatu prilaku masyarakat tertentu atau kejadian dalam masyarakat dapat terekam dalam sebuah karya. Hal ini lah kenapa kemudian sebuah karya menjadi sangat penting sebagai dokumentasi. Lebih jauh lai Swingewood menyatakan bahwa karya sastra bukan hanya sekedar sebgaia cerminan masyarakat, lebih luas lagi merupakan sebuah cermin dari struktur sosial, hubungan kekeluargaan, trend yang muncul, serta konflik kelas.
Sastra sebagai dokumentasi sosial, bagaimana peranan sastra dalam masyarakat dapat menjadi arsip sejarah, namun tidak semua orang bisa menjadikan sebuah karya sebagai sumber sejarah. Bahkan seorang sosiolog atau peneliti mampu menggunakan sastra sebagai dokumentasi sosial. Hanya sebagian orang yang mengetahui tentang struktur sosial dalam sebuah sastra yang mampu mengaplikasikan fenomena sosial kedalam sastra sebagai dokumentasi.
Sastra sebagai sebuah karya bebas, tidak dipungkiri bahwa karya sastra juga mengingkari semangat zamanya, misalnya saja sebuah karya sastra hadir damun secara historis berbeda dengan fakta sejarah yang ada, hal ini bisa jadi terjadi pada sebuah karya, karena terdapat campur tangan pengarang yang memberikan nilai estetik didalam sebuah karya. Namun, bisa saja terjadi dalam fakta sejarah terdapat sebuah otoritas sebuah kekuasaan tertentu untuk tidak menghadirkan fakta tersebut, namun karya sastra sastra dapat mengungkapkannya melalui sebuah cerita.
Tentang mewakili atau tidak sebuah karya terhadap realita sosial, Alan Swingewood mengungkapkan bahwa, tidak menyederhanakan semesta sosial ke dalam tema deskripsi yang luas, melainkan lebih pada tugasnya untuk melakukan kritik dan menciptakan ‘takdirnya sendiri dalam menemukan makna dan nilai sosial. Masyarakat dapat diibaratkan sebagai subjek sosial yang mengkonstruksi sebuah struktur sosial, hal ini meliputi; norma, standar tingkah laku agar seorang dapat diterima oleh orang lain, dan nilai yang secara sadar diformulasikan dan disadari untuk dipatuhi secara sosial.
Balzac dan Gissing dalam buku Alan Swingewood menyatakan, tema devaluasi nilai pokok abad 19, “kebenaran” daro sastra agung dan kelompok-kelompok sosial bersandar pada kemanusiaan. Yakni, kebutuhan interaksi dan menuangkan pendapat, sehingga tugas sosiolog bukan sekedar menemukan refleksi sosial dan historis karya sastra, melainkan juga menafsirkan berbagai nilai yang tertanam didalamnya, yang oleh Raymond William disebut dengan “Structur of feeling”.
Alan Swingewood juga menegaskan bahwsanya terjadinya sebuah perubahan sosial, memiliki pengaruh terhadap sebuah karya sebagai cerminan sosial. Karena berbagai macam masuknya budaya massa. Hal ini akan menambah khazanah karya sastra sebagai refleksi sosial.
Kepengarangan dan Produksi
Pendekatan tentang kepengarangan dan produksi adalah sebuah pendekatan yang sering disebut2 dalam kajian sosiologi sastra. dimana dalam sosiologi sastra pengkajian tidak selalu dengan teks sebagai suatu yang besar dan harus dikaji, namun masyarakat diluar teks sperti pengarang dan produksi adalah suatu bagian yang penting bagi pengkaji sosiologi sastra. Alan Swingewood menyebutkan bahwa pendekatan ini dipindahkan dari pembahasan karya sastra ke pembahasan prosuksi karya sastra, khususnya situasi pengarang. Setelah memasuki era industri, fenomena pasar yang memudahkan pengarang mendapatkan royalti kemudian melemahkan sastra sebagai sebuah karya yang menyimpan banyak nilai didalamnya.
Selera pasar dan permainan kapital menciptakan keberjarakan dan alienasi antara konten sastra dengan gejala yang ada dalam masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan sebuah karya menjadi layu peranya, akibat pasar. Seorang pengarang menciptakan sebuah karya tak lagi sesuai dengan idealism sebagai kepengaranganya, namun menjadi pesanan pasar karena banyaknya permintaan terhadap karya tertentu.
Tapi dalam mengkhususkan kelas bawah, buku-buku yang dianggap murahan diterbitkan, penulis hanya memaksakan sebuah karya mengikuti selera pasar demi royalty saja. Sastra hanya bernilai dari sebuah penjualan.
Sejarah dan Karya Sastra
Sejarah dan karya sastra seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahjan. Dimana keberlangsungan sejarah yang terjadi pada masa silam terekam dalam sebuah karya sastra. sastra memiliki tempat sebagai media pengarang menyalurkan keresahan-keresahanya pada masa lampau dalam bentuk sastra.
Dalam sejarah kelas telah banyak mempengaruhi karya sastra dan menjadikanya besar. Swingewood , mengungkapkan fakta Lowenthel yang membeberkan keberhasilan Doestovsky (1880-1920) mengeliminasi kelas atas dan kealas menengah dalam ideology ‘aneh’ menurutnya tema besar yang mempengaruhi kesusastraan Jerman adalah irasionalitas Doestoevsky yang berkembang kearah bisnis dan masyarakat kapitalistik. Apabila ekonomi dan struktur politik telah berkuasa dan masuk kedalam sendi-sendi manusia, maka yang terjadi adakah kompetisi antar manusia . dalam perkembanganya hal ini lah yang menyebabkan tidak adanya kritik. Dostoevsky dianggap sebagai anti intelektual, mistis, dunia lain, dan berlawanan dengan idealism sosialisme. Hal ini lah yang dikatakan Lowenthel bahwasanya novel yang ditulis oleh Dostoevsky terdapat gejala anti intelektualitas dan melakukan perlawanan terhadap sosialisme-Nazi.
Lawenthel menyimpulkan bahwa para senuman memotret realitas lebih dari realitas itu sendiri. Menurut Richard Hoggart, Literature and Society (1966). Sastra agung menembus lebih dalam pengalaman manusia karena kapasitas sastra itu tidak hanya melihat pergerakan individu, akan tetapi jauh lebih dalam melihat gerakan-gerakan dibahwah yang muncul. Sastra mampu menyatukan ketidak samaan sebuah pola masyarakat ibarat menempatkan magnet diantara serpihan besi.
Menurut Swingewood, inis sangat menarik sekali untuk dicatat dalam poin sosiologi sastra dan kritik sastra adalah persetujuan: satu studi tentang pengarang besar dan teks mereka dengan tepat karena yang besar mengimplikasikan lebih mendalam lagi mengenai wawasan kedalam kemanudiaan dan kondisi sosial (1972:22). Alan menyebutkan “Greatness” dalam tulisannya swingewood meminja Lawenthal bahwa karya sastra mencakup nilai dan symbol fundamental yang menyediakan kohesi kelompok-kelompok yang varian dan berbeda.
Bagaimana Sosiologi Sastra Menurut Alan Swingewood?
Sastra adalah ilmu yang menempatkan masyarakat diluar dirinua. Hal ini lah yang menyebabkan sastra atau sebuah karya sastra memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat, diantaranya sbg produk yang dihasilkan masyarakat dan memberikan manfaat bagi sekelompok masyarakat yang menghasilnya. Hubungan ini, antara sastra dan masyarakat memberikan simbiosis satu sama lain.
Sosiologi sastra lahir dari sebuah kekosongan budaya. Karya sastra dapat mencerminkan suatu kebudayaan tertentu. Karena sastra sebagai representasi suatu kebudayaan tertentu. Terkait apa yang telah diungkapkan di atas, Swingewood memiliki pendapat bahwa karya sastra bukan artefak, melainkan hasil proses dialektika pemikiran. Sehingga, pengarang memiliki ruang yang luas untuk memainkan kepekaannya terhadap perasaan dan pengalaman melalui karyanya. Hanya saja sastra bukanlah cerminan langsung dari suatu realitas sosial masyarakat. Dalam hal ini pengarang memiliki ruang-ruang kosong untuk mengurangi atau menambahkan estetika sebuah kebenaran.
Swingewood menawarkan tiga konsep sosiologi sastra, yakni seorang peneliti dapat memetakan fenomena masyarakat dalam linearitas genetisnya sekaligus menemukan keberpihakan suatu karya tersebut. Ketiga konsep ini kemudian digunakan bersamaan dengan objek material yang sama, hal ini untuk melihat apakah suatu karya sastra tersebut merefleksikan kondisi sosial suatu masyarakat atau sudah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan proses produksinya. Dalam artian suatu karya murni mencerminkan suatu keadaan sosial atau mungkin sebuah karya menjadi suatu tuntutan kepentingan atas kuasa dan sebagai produksi masa.
Daftar Pustaka
Faruk.2012.Pengantar Sosiologi Sastra.Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Swingewood, Alan. 1972. The sociology of Literature. Paladine
Althusser, Louis.1970. Reading Capital.Paris :NLB.
Langganan:
Postingan (Atom)