Minggu, 09 November 2014

Hujan Minggu Malam di Bulan November (Cepen)


9 November 2014
hujan turun pada minggu malam di bulan november. aku masih di luar, disebuah tempat makan,  menyempatkan waktu untuk mengisi perut pada pukul 7 dan tak taumya hujan muncul dengan deras, sekalian sajaberteduh sebentar . nunggu hujan reda..... hemmm... hujan selalu membawaku pada orang-orang di masa lalu, kemudian menyadari pada sekarang ini, aku sedang sendirian menunggu hujan reda. mungkin hujan tak akan secepat siut angin, hujan juga tak akan bim salabim lalu berhenti. hujan selalu meninggalkan rintik sebelum reda, hujan juga meninggalkan tetesan air di atas atap-atap rumah, di atas dedaunan, lalu menyerap kedalam tanah. hujan juga membasahi baju sang gadis. iya, pasti dia kedinginan. kulihat kekasihnya melepas jaketnya lalu memakaikannya kepada sang gadis yang kedinginan. hemm... adegan romantis disaat hujan.
 Anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan bagiku, seharian ini aku sedang malas mandi. kemudian lamunanku masih berjalan-jalan, menaiki atap, kemudian terbang bersama partikel-partikel hujan. oya, tau tidak?! aku sedang mendengarkan musik, bukan musik romatis seperti hujan di bulan ini. ini musik yang nge beat. aku sebenarnya sedang mewanti-wanti diriku sendiri untuk tidak menjadi bagian dari rintik hujan. karena jika menjadi hujan, aku harus jatuh dan menjadi satu dengan tanah, begitu menguap ke atas lalu menjadi hujan lagi, itu artinya harus membiarkan diriku jatuh berkali-kali, yang benar saja.

tadinya aku ingin menceritakan tentang lagu  FIFA World Cup 2014, ya benar, lagu world cup ini dulu sering sekali diputar pada saat kejuaraan dunia, di Brazil. memang Uforianya sudah selesai dengan ditandai kemenangan Jerman. ah ya ampun, Club Jerman, tau-tau saya ingat gambar kaos club jerman sedang mendendarai sepeda motor di lampu merah, waktu itu saya sedang berada di kampung halaman saya di Jawa Timur. sedang dalam perjalanan menuju Jombang kalau tidak salah. begitulah orang memakai kaos dan uforia piala dunia sepak bola berada di benak masyarakat. masyarakat yang mana? semua masyarakat!! melampui batas suku, agama, ras, dan status sosial. itulah kehebatan sepak bola. sepak bola mampu menyentuh berbagai kalangan, sepak bola juga ada permainan yang bisa membuat siapa saja senang bila sudah memainkannya.

sebuah nostalgia membawaku pada sebuah mesin waktu, kembali di bulan Mei 2014. bulan kelahiranku, dan waktu itu hanya satu orang yang mengucapkan selamat ulang tahun melalui sms. jarang-jarang orang peduli dengan sms. facebook dan tweeter merajai dunia dan orang-orangnya. mana ada yang peduli dengan sms. apalagi seorang yang rela menghabiskan pulsanya tersedot 500rupiah saja, boro-boro tersedot 500 rupiah untuk sms, bagaimana dengan telpon? orang akan enggan menghabiskan 10 ribu rupiah untuk sekedar bersilaturahmi dengan temannya. watak-watak pelit yang dibentuk oleh media sosial dan kecanggihan media sosial, hehe dalam benakku. sekarang saja mengundang orang dalam acara seremonial hanya melalui undangan facebook, dulu orang menghabiskan berlembare-lembar kertas dengan mengingat-ingat siapa saja nama kerabat yang akan diundang, tapi sekarang cukup membuatnya di dalam facebook tanpa harus mengingat-ingat kembali, orang lebih mudah mengundang orang lain. malah tak sepeser uang pun keluar dari sakunya untuk biaya cetak.. tapi aku tidak se-idealis itu untuk tidak menggunakan smart phone. aku juga masih menggunakannya. hanya saja aku sedang malas menggunakannya. paling mentok alasanku adalah pelayanan provider yang tidak memuaskan. komunikasi macam taik yang akan diciptakan, kita membeli pulsa dengan paket 1 bulan tapi 2 minggu trouble 2 minggunya lancar, jadi kita hanya menggunakan layanan separuhnya. penghisapan yang sia-sia ketika menggunakan smart phone. sayang sekali smart phone ku ngangkrak di meja kamar. upss... terlalu banyak catatan ya di ceritaku ini, aku sampai lupa menceritakan bulan kelahiranku itu, serta siapakah yg mengiriminya. 
               
     "Selamat Ulang Tahun, semoga tercapai cita-citanya, sekolah ke Jerman, menerbitkan buku, dan sukses tesisnya" 18 Mei 2014

ini adalah sms dari seorang yang aku kenal disebuah Cafe dia adalah temannya temanku. walaupun pada akhirnya aku menjalin hubungan singkat dengannya waktu itu namun hubungan kami tidak ada yang berkesan kecuali sms ini saja yang masih berkesan. alah, mungkin aku saja yang terlau mengingat-ngingat asmara yang tak sukses ini. 

setelah menjalin hubungan dengan seorang aktivis depresi seperti dia, oh sorry aku menamainya seperti itu. tapi sepertinya melebelkannya seperti itu juga sah-sah aja. ini dunia ku, dan ini bahasa yang hidup didalam duniaku. kalau menurut orang bahasa dibentuk secara komunal, melalui interaksi satu sama lain, kenapa orang melupakan dirinya yang ada dan dirinya yang tidak ada. diri yang tidak ada adalah alam pikiran yang menyatu pada sebuah ide, melalui syaraf-syaraf otak lalu menggerakan kai, tangan dan otot-otot. dan sejak saat itu aku memilih sendirian seperti duduk disebuah Cafe lalu hujan-pun turun tak berhenti turun lalu membuat bunyi-bunyian terhempas dari genteng lalu turun meresap ke dalam tanah, kemudian mengisi dalam minggu malam yang kosong.

siapa juga yang mau berebut tulang ikan. kalau mau yang mau hanyalah kucing kampung saja yang doyan. ini bukan masalah "hello selama ini lu gak pernah sadar ya kalau dia tulang ikan?" bukan begitu, kan benar love is blind... cinta itu seperti pelet tanpa dukun. bisa jadi sekarang kita cinta mati dengan manusia tulang ikan, dan bisa saja kita sadar kalau kita sedang mencintai tulang ikan. ah sudahlah, terlalu banyak ngomongin tulang ikan itu nanti rusak otakmu.

hujan sudah mulai reda, sepertinya pulang sekarang tidak akan kuyup basah walaupun masih rintik airnya. 



Sabtu, 18 Oktober 2014

Mbak Ayu... (Cerpen)

Mbak Ayu ….
“Apakah karena saya Janda? lantas saya tidak boleh jatuh cinta lagi? Apa sebab itu seorang janda juga harus menjadi perempuan suci layaknya Mariam? Oh pasti berbeda dengan kisah tentang Mariam yang memiliki anak . tapi ada yang sama dari kami sekelilingnya juga banyak yang menghujat karena status. Mariam memiliki anak tanpa ada pernikahan, sedangkan saya menjadi Janda karena tidak mempunyai anak”. 
***
disebuah rumah tak begitu besar dan juga tak begitu luas, tinggal seorang perempuan bernama Ayu, para remaja di kampung ini dan anak-anak kecil sering memanggilnya tante, umurnya 36 tahun. Sebagai seorang yang bs dikatakan masih muda jika dibandingkan dengan bapak dan ibu yang memiliki umur 50-an keatas, Ayu pun dipanggil tante oleh warga yang tinggal di desa ini. Mungkin karena memang kebiasaan orang-orang yang latah atau memang sedang membiasakan  (mengajari) anak-anaknya untuk menghormati orang yang lebih tua.
Kebiasaan tante ayu pada hari senin sampai jumat, adalah ngantor, tapi bukan kantor negri. Di desa ini lah tante ayu mendirikan sebuah kantor yang bergerak dibidang swadaya masyarakat. Bukan milik tante Ayu, sih. Tapi tante Ayu hanya mengelolahnya. Tante Ayu, hidup disebuah desa kecil dengan warga yang sudah seperti keluarga. Sejak meninggalkan kota tempat dia tinggal bersama mantan suaminya dulu, tante hidup sendiri, keadaan mulai berubah. Masa-masa kebahagiaan saat pernikahan tiba-tiba harus hilang, cinta tante kepada suaminya secara mendadak harus dilepaskannya. “ah tapi ini masalah ketidak cocokan antara kami.. lantas bagaimana lagi ksalau sudah tidak cocok?”  kata wanita Ayu sambil melihat-lihat album kenangannya. Melihat tubuh yang dulu waktu masih perawan, masih lincir kalau kata orang-orang, tak begitu kurus dan tak begitu gemuk seperti sekarang ini. namun 9 tahun pernikahan membuat Ayu mulai berubah, tubuhnya menggelembung bagaikan balon diudara. 3 tahun dengan tubuh seperti itu ditambah masalah perceraian membuat tante harus menumbuhkan rasa kepercayaan diri dengan  maksimal. 
Mungkin kalau dalam pergaulan di lingkungan kerja atau relasi-relasi Ayu, tak banyak menampakkan rasisme terhadap tubuh Ayu. Akan tetapi terkadang orang yang baru mengenalnya, lalu melihatnya dari fisik, itu akan mengiris-iris hati tante Ayu. Dia akan mulai mengingat-ingat kembali masa-masa 10 tahun lalu ketika umurnya masih 26 tahun. Tak ada yang tahu bagaimana perubahan tubuh ini bisa terjadi, apakah akbat hormon? Ataukah pola makan yang berlebihan, namun tante Ayu merasa taka da yang salah dengan dirinya. Sejak menikah dengan mantan suaminya 3 tahun yang lalu, perkembangan tubuhnya mulai terlihat, bahkan Sembilan tahun terakhir tubuhnya pun 100 kg, kemudian saat berpisahpun tante Ayu sudah menjadi seperti sekarang ini.
Disebuah acara pertemuan kerjanya, tante Ayu tak sengaja bertemu dengan laki-laki yang kemudian membawanya kepada sebuah arus asmara, lalu membawanya muda kembali, yang juga membuat Ayu berbelanja baju masa kini, sepatu, tas, dan bahkan perawatan kulit yang sedang digandrungi anak-anak muda jaman sekarang. Ayu pun jadi ikut-ikutan mendadak menjadi golongan muda suka Korean waves, inilah yang dirasakan Ayu kala asmara menggodanya untuk mencoba-coba seperti remaja .
Memang hubungannya tak bisa di publish sembarangan apalagi harus di munculkan di halaman facebook Ayu, dengan alasan menjaga privasi. Akan tetapi belakan terakhir ini Ayu mulai berani menerbitkan foto-foto kemesraan berdua bersama sang pujaan hati. Oya laki-laki ini bernama Mas Nur, dia adalah lulusan perguruan tinggi yang juga satu almamater bersama Ayu namun berbeda jurusan dan tahun, pekerjaannya sehari-hari tidak jelas, dia hanya menunggu proyekan datang baru ada pekerjaan. Misalnya saja menerjemahkan buku, lalu ngedit-ngedit buku. Seperti itu pekerjaannya. Ayu yang lebih tua dan mapan tidak pernah tidak lupa memberi sekedar makan siang disebuah resto dekat kecamatan tepatnya disebuah resto pinggi jalan menuju kota.
Tepat jam 12:30 Ayu merasa ingin bertemu dengan pujaan hatinya lalu tak lama kemudian dia mengirimi SMS kepada Nur
“mas Nur, apa mas sudah makan siang?” Tanya Ayu kepada mas Nur melalui pesan singkat.
Lalu si Nur yang pada saat utu baru saja bangun tidur menjawab “Belum, sayang” . kemudian Ayu-pun menanyai kembali “Mas lagi sibuk ya?” . Nur yang pada bulan terakhir ini tidak ada job menghampirinya lalu ngeles kepada Ayu, agar harga dirinya sebagai laki-laki tidak lah turun. Dia-pun beralasan kalau beberapa hari ini harus ngelembur sampai pagi nerjemahin buku. Dan selanjutnya mas Nur pun menerima ajakan dari Ayu untuk makan siang berdua.
**
Disebuah resto dekat kecamatan, Ayu bersama mas Nur makan siang, dengan menu kesukaan Ayu yakni daging-dagingan, ah tapi ini tak lain ada dua maksud, pertama Ayu suka menimbun lemak lagi-lagi, kedua kekasihnya yang kurus kerempeng ini juga perlu asupan gizi sama seperti AYU. 
Tak disangka ketika makan, tetangga Ayu melihatnya sedang beradu kasih di resto tersebut , lalu esok paginya menjadi sebuah buah bibir warga kampung. Berita ini mencuat dengan cepat. Karena Ayu sendiri adalah salah satu warga yang aktif dalam kegiatan-kegiatan di desanya. Walaupun Ayu adalah seorang pendatang namun dia cepat sekali mengakrapi lingkungan barunya. Bahkan sampai berita mbak Ayu mempunyai gandengan warga pun rebut-ribut. Tapi sayang sekali ini tidak seperti disinetron-sinetron yang menggambarkan sebuah adegan warga kampung sedang menggosip di tukang sayur. Berita ini berlalu begitu saja seperti sewajarnya.
Ayu pun tak menyadari kalau warga ini sudah tahu kabar tentang dirinya dengan mas Nur. Sesekali dia membukakan pintu rumahnya untuk mas Nur lalu membiarkannya berlama-lama bertamu dirumahnya sampai tengah malam. Sekali-duakali telah tercium oleh warga. Baru-lah dari berita yang biasa saja berubah menjadi luar biasa. Lalu ketua RT menegur Ayu untuk tidak lagi menerima tamu sampai tengah malam. Ayu pun mulai gerah dengan laporan warga seperti itu. Mulailah citra positif Ayu di desanya berubah menjadi negatif. Dia kembali menjadi bulan-bulanan oleh warga. Statusnya sebagai janda mulai menjadi sebuah maneuver baru bagi warga untuk menghujatinya habis-habisan. Lalu tubuhnya yang sedikit lebih kurus, hanya berkurang 20kg juga masih mendapatkan olok-olokan sebagai rasi.
Dalam hati Ayu bergeming tentang masalah yang dia hadapi. “mencintai adalah hakku sebagai wanita, lantas apa salah jika aku sebagai Janda jatuh cinta lagi” kata Ayu di dalam kamarnya sambil mememluk bonekah tawon yang ia dapatkan dari mas Nur. Lalu taklama kemudian keponakannya yang masih umur 3 tahun masuk kamarnya lalu memanggilnya “Tante Ayu”. Ayu pun langsung meraih tubuh kecil anak laki-laki yang menjadi keponakan semata wayangnya. Menatap mata malaikat kecilnya itu lalu tersenyum.
…..“bayangkan, rasakan, bila semua berbalik kepadamu dan bayangkan, rasakan bila kelak kau yang jadi diriku”… Miss.10/19/2014

Wisata Nostalgia Sastra : Kampung Halaman dan Arcadia


Pada minggu lalu saya bertemu dengan seorang sastrawan yang menjadi juru masak disebuah warung makan yang berada di Pujale UGM. Pada awalnya memang saya tidak ada wacana dan bahan bacaan tentang romantisisme barat. Akan tetapi sastrawan ini merekomendasikan beberapa bacaan yang berkaitan tentang penelitian yang akan saya lakukan. Sudah cukup pusing jika berhadapan dengan teori-teori barat. Yang saya dapat tidak sesuai dengan keinginan. Ketika yang ingin saya tulis ini berupa empirik  namun masih objektif. Karena penelitiuan saya berkaitan tentang gaya penulisan dan wacana desa. selama ini saya kurang begitu suka dengan penelitian-penelitian sastra di Indonesia, karya diperkosa sedemikian rupa agar menjadi sebuah riset yang dipandang berbobot. Tapi jauh dari situ, sebuah karya menjadi berlari dari dirinya sendiri. Mungkin seseorang yang banyak membaca buku-buku filsafat akan menyadari tentang banyaknya repertoire yang dia miliki, sehingga dalam membaca karya dia akan menemui bahwa karya itu seperti apa yang ada dalam repertoire. Saya juga tidak bisa menyalahkan bagaimana sebuah teori resepsi mempengaruhi pembaca dalam membaca sebuah karya sesuai dengan repertoire atau kapasitas yang mereka miliki.

Arcadia adalah cara hidup yang diedealkan atau tempat yang diidealkan karena bentuk awal teks pastoral adalah Idylls (judul puisi Theocritus). Maka Idylls diasosiasikan dengan pastoral. Kata idylls diambil dari bahasa yunani ‘Eidyllion’ yang berarti ‘smart picture’ dyang berisi tulisan pendek tentang diskripsi yang diidealkan. Istilah Idylls dalam perkembangannya digunakan secara umum, tidak hanya mengacu pada bentuk puitika khusus. Misalnya tidak memetik buah dari pohonnya disebut Idylls (Gifford, 1999:13-16)

Konstruksi Arcadia :
1)      Unsur Idylls memuat deskripsiu idealis nilai-nilai desa yang mengaplikasikan kritisisme kota
2)      Unsur nostalgia, sebagai bentuk yang selalu melihat kebelakang atau masa lalu
3)      Unsur Georgic yang menampilkan kenyamanan secara harmonis dg alam
Jika melihat dari konstruksi Arcadia yang memiliki unsur desa, masa lalu, dan  kenyamanan yang harmonis dengan alam. Jika kita melihat bagaimana kesusastraan Indonesia yang memenuhi unsur-unsur tersebut. Seperti alam pedesaan.


Senin, 15 September 2014

MIEKO TULANGAN : BERBISNIS DAN BER-KOOPERASI


Selamat Pagi......

pada tanggal 12 September yang lalu kami telah buka di Lembah UGM atau dikenal dengan PUJALE UGM. posisi tepatnya lurus dengan fakultas Filsafat UGM. pada saat hari pertama kami buka, pelanggan yang pertama adalah dari teman-teman dari kami. kemudian hari kedua kami buka di PUJALE, saya pikir akan banyak pelanggan ternyata hemmm apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. kata koki misterius kami yang mengoprasikan Mieko Tulangan sih, berapapun hasilnya, berapapun pembelinya, satu aja perlu disyukuri. oke deh...
untuk menu-menu yang ada dalam kedai kami, pertama ada menu utama yakni Mie Kocok. makanan ini hasil dari pembacaan koki terhadap sebuah makanan asal Bandung. namun dalam Mieko Tulangan koki kami mengobrak-abrik rempah-remnpah lalu menyusun kembali menjadi sajian yang nikmat dengan kaldu sapi asli, tanpa vitchin atau michin, tanpa penyedap rasa. karena dalam racikan kami menggunakan bumbu-bumbu rahasia. tak hanya itu Mieko juga ada menu jamur untuk yang tidak suka dengan daging-dagingan. kuahnya memang gulai seperti masakan padang, namun masakan ini asli jamur tidak ada dagingnya sama sekali. untuk minumannya ada minuman tradisional namanya Simbar Wareh, minuman ini hasil dari ibu-ibu di pegunungan Kendeng. wah, nikmat sekali kan :) ayoo datang ke Pujale UGM
review akan saya lanjutkan setelah kelas pagi ini selesai :D yaaaakkk ... #ciawww

Sabtu, 06 September 2014

Pacar Merah 1 : Sebuah Pencarian, Romansa, dan Spionase


Add caption
Selamat pagi, hari ini saya sedang membaca novel yang berjudul pacar merah. Entah kenapa setelah teman-teman Rangka Tulang menjadikan sebagai sebuah tema dalam pameran lukis yang diselenggarakan di KPY (Kelas Pagi Yogyakarta). Dengan seksama say membacanya dan baru setengah halaman yang saya baca. Pada halaman pertama disuguhi dengan sebuah ulasan singkat dari Harry Poze seorang sejarahwan yang juga mnejadikan Tan Malaka sebagai Objek penelitiannya.
Tan Malaka memang tak dikenal sebagai pahlawan selayaknya Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut Harry Poeze sebagai peneliti yang sudah lama meneliti tentang Tan Mala, sampai yang dapat memastikan makam Tan Malaka berada di daerah Kediri Jawa Timur dan terletak di desa Selopanggung.  Namanya pun tak disebutkan dalam nama-nama pahlawan selayaknya pahlawan yang kita hafalkan sewaktu SD. Dalam buku sejarah manapun nama Tan Malaka memang tidak begitu popular sebagai seorang pahlawan.
Pertama-tama yang ada dalam pikiran saya “Pacar Merah” mungkin saja sebutan sebagai seorang pacar atau kekasih yang merah, akan tetapi merah disini merupakan sebuah penanda bagi yang beraliran kiri. Seorang kekasih yang memiliki ideology kiri. Dan sebutan ini muncul saat Nona Ninon, wanita keturunan cina dan Prancis yang merupakan kekasih dari Tan Malaka memberinya julukan “Pacar Merah”. Walaupun begitu Tan Malaka juga memiliki sebutan lain disetiap negara yang berbeda.
to be continue......  
                                                                                            Mishilisme
                                                                             Yogyakarta, 6 September 2014

Senin, 21 Juli 2014

Rindu pada Mata Elang

harus aku mulai dari apa ini tulisan, sekali pengen nulis ya nyampah disini. 

Berkabung: Layatku Untukmu, Bung Anantaguna

Potrait Seorang Komunis
Adakah Duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati
adakah tangis lebih tangis yang kita punya badan lesu dan napas sendat di dada
tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu
bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya
bila pernah ditakuti tapi juga disayangi
bila kalahpun berlampauan dan menang akan datang
adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi
dan apakah yang aku bisa selain hidup 
adalah bangga lebih bangga yang kita punya
di pagi manis daun berbisikan tentang komunis
begitu lembut begitu mesra desirkan hari biru
adakah cinta lebih cinta yang kita punya
sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja.
                                   (S. Anantaguna)
tulisan ini untuk memperingati 2 hari kepergian sastrawan Lekra yang sangat dicintai oleh penggemarnya. memang namanya tidak se-populer, namun dalam realisme magis, dan kalangan pembaca realisme magis tidak akan melupakan sosok S. Anantaguna. kalaupun hari ini saya menuliskan sebuah rasa duka yang mendalam tentang kepergian sosok bung Anantaguna. memang Saya belum pernah sempat bertemu dengan beliau yang lahir di Klaten, Jawa Tengah. jikalau seseorang yang sedang berduka dengan kematian, layatan ini hanya sebuah tulisan untuk menghormati kesastrawanan Anantaguna.
Potrait Seorang Komunis adalah sebuah puisi yang menjadi salah satu jagoan saya, selain puisi "Demokrasi". puisi ini mungkin sedikit mewakili kepergiannya. Anantaguna dikenal sebagai salah satu satrawan yang bekerja dalam ruang Realisme. wajah ke-duka-an dalam setiap bait. perih, kematian, darah, tangis, "lesu dan napas sendat di dada". adalah komponen yang membentuk kedukaan. bila dalam puisi ini menceritakan sebuah kepedihan yang mendalam akan kehilangan seseorang kawan yang telah pergi namun masi di kenang. kawan yang masih berkesan, sebagai sosok yang pernah di takut-takuti namun juga disayangi. namun dalam bait terakhir menuliskan tentang sebuah pengharapan yang baru tentang hidup yang berharga. dan Komunis pada sajak "pagi manis daun berbisikan tentang komunis" menyiratkan bahwa pada saat itu yang berharga adalah yang hidup, sedangkan pagi adalah suatu bagian yang dimulai dalam kehidupan, dan daun yang berbisik tentang komunis. berbisik adalah metafor yang dibuat untuk memperindah kata-kata. kemudian sajak berikutnya, "begitu lembut begitu mesra desirkan hari biru
adakah cinta lebih cinta yang kita punya. sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja" menyiratkan sebuah sesuatu yang berjalan dengan lembut, mesra, cinta, dan kesetiaan.sebuah metafor yang dipilihkan untuk membuat indah, damai, dan tanpa kekerasan yang mengacu pada Komunis.

kita tahu pada tragedi G30S,adalah tragedi berdarah untuk kaum komunis. kekuasaan menjadi sebuah mesin pembunuh bagi siapa saja yang berlatar belakang komunis. hasutan tentang gerakan sparatis, menggugah para kelompok dan ormas-ormas islam menjadi oposisi. dan pada saat itu komunis menjadi sebuah momok, menjadi sebuah hantu yang harus diburu oleh para pemburu hantu. namun inilah sejarah konspirasi besar di Indonesia. adakah saat itu yang tidak terhasut oleh kekuasaan dan memikirkan tentang "darah" seperti pada sajak yang ditulis oleh Anantaguna? mungkin patutlah puisi "Potrait seorang Komunis" adalah sebuah narasi besar tentang kemanusiaan. pengarang memiliki pandangan dunia tentang humanisme universal. dimana keadilan harus diperjuangkan. jika diamati satu persatu terdapat sebuah diksi yang berda dalam puisi tersebut, yakni, "disayang" dengan "ditakuti"/ adalah sebuah entitas yang berlawanan antara sebagai hal yang positi namun juga ditakuti (seperti hantu). gambaran-gambaran dalam sajak diatas adalah ditujukan untuk para komunis, lalu yang tersisa adalah "yang masih hidup" sesuai dalam " apakah yang aku bisa selain hidup". mungkin jasad adalah kawan yang telah mati, namun "Aku" sebagai aku liris mengacu pada sebuah apa yang masih kita miliki, yakni daun yang berbisik komunis. sebuah ide, konsep, dan ataupun berlatar -isme tentang komunis. walaupun tubuh tidak lagi mampu hidup, namun sebuah ideologi akan tetap hidup, dari yang tersisa dan berharga. menjadi sesuatu yang manis, mesra, cinta dan kesetiaan.

selamat jalan, Bung Anantaguna....
inilah bagian dimana tubuh atau jasad yang tak mampu lagi menahan sebuah masa, namun ada yang lebih berharga dan masih hidup, yang berbisik mesra tentang Komunis, setia dan berkobar...


                                                                                                              Mishilisme
                                                                                                         Depok, 21/7/2014